RESENSI
NOVEL “SI PUTIH”
Judul : Si Putih
Pengarang : Tere Liye
Kota
terbit : Jakarta
Penerbit : Gramedia
Tahun
terbit : 2021
Tebal : 376 Halaman
ISBN : 9786020652252
Harga : Rp 85.000,00
2. Sinopsis
Si Putih adalah novel kesepuluh dalam serial Bumi yang
epik. Cerita ini dimulai dengan perkenalan Si Putih, suatu makhluk yang tidak
biasa. Si Putih adalah hewan kuno yang lahir di dalam peradaban panjang klan Polaris. Klan
Polaris, terkenal karena sering diserang oleh pandemi mematikan, merupakan
tempat tinggal ribuan miliar spesies makhluk hidup yang beragam. Melalui
catatan sejarah, terungkap bahwa ribuan tahun yang lalu, penduduk Klan Polaris
memiliki kemampuan khusus yang luar biasa. Di antara mereka, ada yang memiliki
anugerah untuk berkomunikasi dengan hewan-hewan, bahkan memahami mereka dengan
sempurna. Hal ini adalah kekuatan yang sangat langka dan jarang ditemukan di
tempat lain.
Peradaban mereka
yang melesat jauh membuat penduduk klan Polaris tergiurkan akan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Namun karena pesatnya perkembangan pengetahuan dan
teknologi, mereka telah melupakan satu hal. Hal itu adalah kemampuan unik dari
bangsa klan Polaris asli yang dapat memahami dan berkomunikasi dengan hewan.
Pesatnya perkembangan peradaban klan Polaris berdampak pada kurangnya interaksi
masyarakat klan polaris dalam dengan hewan. Banyak dari masyarakat klan Polaris
yang kehilangan kemampuan dalam berinteraksi dengan binatang. Cetak biru
genetik ini tentu masih tersisa dan sesekali diturunkan pada peredaran
tertentu. Hal inilah yang menjadi plot utama dalam novel ini.
Klan Polaris
adalah sebuah klan unik yang terletak di konstelasi Ursa. Dalam novel
diceritakan bahwa terjadi pandemi virus yang menyusahkan semua masyarakat di klan
itu. N-ou, salah satu anak yang bisa dikatakan beruntung. N-ou yang saat itu
berusia enam tahun terpaksa terpisahkan dari kedua orang tuanya karena dirinya
tidak lolos seleksi saat pemeriksaan di portal menuju klan Polaris bagian
kedua. Saat itu N-ou terdeteksi bahwa di dalam tubuhnya terdapat virus yang
mengharuskan dirinya kembali ke daerah asalnya, yakni kota E-um. Kota E-um,
kota di mana ia berasal dan ia tinggali sudah hancur berantakan, tidak ada yang
bisa diselamatkan akibat adanya pandemi yang terjadi. Semua orang histeris
meminta untuk dibantu dan diselamatkan dengan benda terbang.
Namun, sayangnya
mereka yang tubuhnya terinfeksi oleh virus, terpaksa ditolak dan malah
menimbulkan kerusuhan di tengah kesusahan yang melanda. Karena keadaan kota
sudah berantakan, N-Ou akhirnya terpaksa tinggal di sebuah gedung yang sepertinya
sudah lama terbengkalai. Dinding gedung itu sudah gompal dan bongkahan material
besar terlihat dimana-mana. Saat N-ou tiba di bagian dalam gedung yang sudah
berantakan itu, ia menemukan Si Putih. Si Putih merupakan seekor kucing yang
rela membantu N-ou, memberinya makan, menyelimutinya, dan mencarikannya air
sehingga anak kecil berusia enam tahun itu dapat kembali beraktivitas dan pulih
dari virus yang meradang tubuhnya. N-ou memiliki tekad dan ambisi untuk menemui
kedua orang tuanya dengan mencari berbagai cara supaya dapat menerobos dinding
kuat tebal itu. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah kapsul canggih
yang kemudian menjadi kendaraan yang mereka gunakan selama berpetualang.
Selama lima tahun
ia mencari cara, sambil ditemani oleh Si Putih, hasil yang didapat tidaklah ada
alias nihil. Sejak saat itu, N-ou memendam semua tekad dan keinginannya itu, ia
memutuskan untuk menjelajah mempelajari klan Polaris ditemani oleh Si Putih.
Penjelajahan dan petualangan dimulai dengan melewati hutan yang selama ini ia kira
tidak berpenghuni, tetapi nyatanya N-ou mendapati gubuk kecil tua di dalam
hutan tersebut. N-ou yang sedari awal menyadari bahwa akan ada bahaya yang
menerjang gubuk kecil tua itu maka dengan segera ia menyelamatkan seorang
laki-laki tua yang berada di gubuk tua. Namun, ternyata orang tua itu sangatlah
cerewet sehingga sukar untuk melakukan evakuasi. Dari peristiwa tersebut,
anggota dari petualangan N-ou menjadi bertambah, yakni bersama laki-laki tua
itu yang bernama B-rham atau lebih akrab dipanggil Pak Tua oleh N-ou dan Si
Putih. Petualangan dan penjelajahan mereka pun bertambah menyenangkan,
menegangkan, sekaligus menyeramkan.
Titik tertinggi dari petualangan mereka adalah saat N-ou beserta rombongannya dengan tidak sengaja bertarung melawan pengendali hewan yang kemudian berhasil mereka taklukkan. Namun, tempat yang menjadi destinasi petualangan mereka terbilang unik sebab kota-kota tersebut adalah kota tanpa teknologi, bisa dikatakan sangatlah primitif. Hal itu dikarenakan kekuasaan mereka diatur oleh semacam pengendali hewan. Dalam novel Si Putih, dikisahkan bahwa tokoh N-ou merupakan anak yang tumbuh dan berkembang menjadi remaja pintar, cerdas, dan peduli dengan sesama, bahkan dirinya rela bertarung melawan seorang penguasa, yakni Raja Penguasa Gunung Timur. Hal itu dilakukan N-ou hanya untuk menyelamatkan nyawa temannya yang pernah ia kenal saat di kota E-um. Ia bertarung mati matian untuk menyelamatkan temannya itu. Atas ketulusan dan kebaikannya, meski sempat terdesak oleh sang Raja Penguasa Gunung Timur, N-ou dan Si Putih berhasil menaklukkan Raja Penguasa Gunung Timur. Terlepas dari itu, dalam novel ini akan terus dikisahkan tentang harapan terpendam N-ou untuk dapat menerobos masuk dinding tebal yang memisahkan ia dengan orang tuanya.
3. Kekurangan dan Kelebihan
· Kelebihan
Seperti kebanyakan novel-novel karya Tere Liye, tata
bahasa yang digunakan dalam novel Si Putih sangat mudah untuk dimengerti. Tere
Liye sukses membuat kita sebagai pembaca seakan berada di situasi pada cerita
yang ada, salah satunya adanya persamaan antara pandemic yang di alami oleh
tokoh N-ou dengan pandemi covid-19. Selain itu, karakter Pak Tua, yakni Br-ham
yang menonjol karena sikapnya yang cenderung rewel. Namun, ia adalah sosok yang
seru, sangat menyenangkan, dan humoris. Maka bisa diibaratkan Pak Tua adalah
sosok yang mewarnai petualangan N-ou dan Si Putih, serta menghidupkan cerita
dalam novel Si Putih.
Terdapat salah satu adegan yang menakjubkan, yaitu
saat mereka menghadapi berbagai tokoh karakter antagonis, pada saat itu N-ou
melakukan bonding dengan Si Putih sehingga kekuatan dan kemampuannya justru
semakin bertambah. Selain itu, penulis mampu memberikan gambaran yang apik saat
N-ou, Si Putih, dan Pak Tua sedang melakukan percakapan yang mana mereka
bertiga jelas berbeda. N-ou dan Pak Tua merupakan dua manusia, memiliki
perbedaan usia yang terbilang cukup jauh, sementara Si Putih adalah seekor
hewan purba. Akan tetapi, perbedaan itu justru digambarkan oleh penulis dengan
sangat menakjubkan. Mereka mampu berkomunikasi dan melakukan petualangan yang
bersahabat.
·
Kekurangan
Seperti yang kita ketahui, Si Putih merupakan novel
lanjutan dari series Bumi. Meskipun menghadirkan karakter-karakter baru, namun
rasa petualangan yang dihadirkan cenderung sama dengan novel-novel sebelumnya
alias itu itu saja. Saat membaca novel Si Putih, pembaca tidak merasakan efek
yang begitu mendebarkan, mungkin hal itu karena alurnya yang terbilang mudah
ditebak dan tidak ‘mengejutkan’. Dengan kata lain, jenis petualangan yang
dihadapkan pada N-ou dan Si Putih bukanlah hal yang baru.
Untuk pengembangan karakter N-ou juga dapat terbilang
klasik. Pengarang menghadirkan cerita dimana sang ‘anak baru’ dapat mengalahkan
musuh yang telah berlatih bertahun-tahun dengan kekuatan pertemanan. Sebagai
pembaca serial Bumi ini, tentu pembaca sudah dapat menebak dan memprediksikan
bahwa pada akhirnya N-ou berhasil menaklukkan sang Raja Gunung Timur. Selain
itu, terdapat beberapa part dimana pembaca merasakan kejenuhan saat
membaca novel Si Putih ini. Hal itu tampak pada adegan Si Putih meminta
makanan. Adegan ini terus di ulang ulang sehingga menimbulkan rasa jenuh saat
membacanya.
Comments
Post a Comment