Skip to main content

Gadget Mahal: Sepenting Itu Buat Kehidupan Sosial di Sekolah?

 

Gadget Mahal: Sepenting Itu Buat Kehidupan Sosial di Sekolah?


Di era digital ini, gadget udah kayak kebutuhan primer buat kita semua, terutama Gen Z. Tapi, di sekolah, tren gadget mahal ini mulai bikin masalah sosial yang nggak bisa diabaikan. Apakah bener gadget mahal segitu pentingnya buat kehidupan sosial di sekolah? Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Status Sosial Lewat Layar

Nggak bisa dipungkiri, gadget mahal sering jadi simbol status sosial. Di banyak sekolah, ponsel pintar terbaru dengan fitur canggih dan harga selangit bikin pemiliknya terlihat lebih "keren" dan lebih diterima dalam pergaulan. Sayangnya, ini bikin hierarki sosial yang nggak sehat. Nilai seseorang jadi diukur dari seberapa mahal gadget yang mereka punya, bukan dari karakter atau prestasinya.

Tekanan Finansial dan Emosional

Tekanan buat punya gadget mahal nggak cuma dirasain siswa, tapi juga orang tua. Banyak orang tua yang terpaksa ngeluarin uang lebih demi memenuhi permintaan anak-anaknya, biar nggak kena stigma sosial. Hal ini jadi beban finansial besar, terutama buat keluarga dengan penghasilan pas-pasan. Siswa yang nggak bisa punya gadget mahal sering merasa minder dan terisolasi, yang berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.

Diskriminasi Sosial

Gadget mahal juga bikin diskriminasi sosial di sekolah makin parah. Siswa yang nggak punya gadget canggih sering diabaikan atau dianggap kurang penting. Mereka nggak diajak dalam aktivitas sosial tertentu yang melibatkan teknologi tinggi, seperti main game online atau join grup chat eksklusif. Akibatnya, mereka jadi terpinggirkan dan kurang kesempatan buat bersosialisasi secara sehat.

Dampak pada Pendidikan

Fokus berlebihan pada gadget mahal juga bisa ganggu proses belajar di sekolah. Siswa yang terlalu terpaku pada gadget mereka mungkin jadi kurang fokus dalam pelajaran. Keinginan buat selalu punya teknologi terbaru bisa ngurangin perhatian mereka dari tugas-tugas akademik dan kegiatan ekstrakurikuler yang sebenarnya lebih bermanfaat.

Fenomena Konsumerisme

Ini juga cerminan masalah konsumerisme yang makin merajalela di kalangan Gen Z. Dengan iklan dan media sosial yang terus promosiin gadget terbaru sebagai barang wajib punya, siswa jadi terjebak dalam pola pikir kalau kebahagiaan dan status sosial bisa dibeli. Padahal, nilai-nilai kayak kerja keras, kreativitas, dan empati nggak bisa diukur dari harga gadget yang kita punya.

 

Terus, gimana dong cara ngatasinnya? Pertama, kita perlu ubah paradigma di kalangan siswa, orang tua, dan sekolah. Penting buat ngingetin kalau harga diri dan nilai seseorang nggak ditentukan dari barang-barang materi. Sekolah bisa berperan besar dengan edukasi tentang pentingnya karakter dan prestasi pribadi dibanding kepemilikan materi.

Kedua, sekolah bisa bikin kebijakan yang batasi penggunaan gadget mahal selama jam sekolah. Bukan berarti larang total, tapi lebih ke arah penggunaan teknologi yang bijak dan sesuai kebutuhan. Selain itu, program-program yang promosiin inklusivitas dan hargai perbedaan bisa bantu ngurangin diskriminasi sosial berbasis materi.

Gadget mahal emang udah jadi bagian dari dinamika sosial di sekolah, tapi kita harus sadar kalau ini bukan penentu utama kebahagiaan atau keberhasilan seseorang. Nggak adil menilai seseorang dari gadget yang mereka punya. Jadi, perlu ada usaha bareng-bareng buat ubah pandangan ini dan bikin lingkungan sekolah yang lebih inklusif. Dengan begitu, teknologi bisa dipakai buat ningkatin kualitas hidup, bukan jadi sumber tekanan dan perpecahan.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel "Si Putih" Karya Tere Liye: Identitas Buku, Sinopsis, Kelebihan & Kekurangan

  RESENSI NOVEL “SI PUTIH” 1.    Identitas Buku/Novel Judul                 : Si Putih Pengarang        : Tere Liye Kota terbit        : Jakarta Penerbit            : Gramedia Tahun terbit      : 2021 Tebal                 : 376 Halaman ISBN                  : 9786020652252 Harga                : Rp 85.000,00   2.    Sinopsis Si Putih adalah novel kesepuluh dalam serial Bumi yang epik. Cerita ini dimulai dengan perkenalan Si Putih, suatu makhluk yang tidak biasa. Si Putih adalah hewan kuno yang lahir di dalam peradaban panjang klan Polaris. Klan Polaris, terkenal karena sering diserang oleh pandemi mematikan, merupakan tempat tinggal ribuan miliar spesies makhluk hidup yang beraga...

Poster Sebagai Media Kreatif Penyampaian Pesan

   Poster adalah media gambar yang mengkombinasikan unsur-unsur visual seperti garis, gambar dan kata- kata untuk dapat menarik perhatian dan mengkomunikasikan pesan secara singkat (Anitah, 2009; Smith, 2007).    Poster merupakan karya seni yang memuat unsur huruf dan gambar. Umumnya isi dari poster berupa sebuah pengumuman ataupun iklan. Agar menarik perhatian orang lain, pilihan warna harus mudah ditangkap mata pengamat atau disesuaikan dengan tujuannya.     Tadi sudah sempat disinggung bahwa poster harus menarik agar mendapatkan perhatian orang lain. Tujuannya adalah agar pesan yang ingin disampaikan dapat diketahui oleh pembacanya. Untuk fungsinya, poster dapat dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu seperti berikut ini: Memberitahukan sebuah kegiatan atau acara Poster dapat digunakan sebagai media yang mengumumkan adanya sebuah kegiatan atau acara. Dengan membuat pengumuman acara lewat poster, diharapkan orang akan mengetahui informasi seputar acara dan ju...